Silat Rejang Pat Petulai Terancam Vakum 2026, Identitas Budaya Rejang Lebong di Ambang Kehilangan

- Penulis

Senin, 8 Desember 2025 - 11:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rejang Lebong, Beritarafflesia.com.- Salah satu identitas budaya tertua masyarakat Rejang Lebong, Silat Rejang Pat Petulai, kini berada pada situasi paling genting dalam perjalanan pelestariannya.

Minimnya pembiayaan operasional sejak awal tahun untuk kebutuhan latihan, perlengkapan, hingga pembinaan membuat tradisi ini berpotensi vakum pada tahun 2026. Kekhawatiran ini mencuat karena silat tersebut bukan sekadar seni bela diri, melainkan bagian penting dari jati diri masyarakat Rejang.

Saat ini, sekitar 4.000 warga Rejang Lebong masih aktif mempelajari silat ini. Angka tersebut menandakan betapa besar antusiasme masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya leluhur.

Namun, tanpa adanya dukungan pendanaan yang memadai, aktivitas pendidikan budaya ini dikhawatirkan tidak dapat dilanjutkan.

Ketua Silat Rejang Pat Petulai, Aminudin, menyebut potensi vakum ini dapat membawa dampak besar terhadap keberlanjutan pewarisan budaya.

Jika kegiatan berhenti satu atau dua tahun saja, mata rantai pewarisan bisa terputus. Generasi muda tidak lagi mendapat ruang belajar untuk memahami nilai leluhur dan identitas asli daerahnya,” ujar Aminudin.

Ia menegaskan bahwa ancaman vakum bukan hanya persoalan teknis latihan, tetapi hilangnya kesempatan pendidikan budaya yang selama ini disampaikan melalui kegiatan silat.

Silat Rejang Pat Petulai adalah simbol yang menunjukkan siapa masyarakat Rejang Lebong. Ketika kegiatan ini berhenti, yang hilang bukan hanya gerakan, tetapi memori kolektif dan jati diri,” tambahnya.

Silat Rejang Pat Petulai telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Bengkulu dan kini tengah dipersiapkan menuju penetapan tingkat nasional. Namun proses tersebut menuntut bukti keberlangsungan aktivitas budaya yang stabil dan rutin. Jika kegiatan ini benar-benar terhenti, proses pencatatan nasional berpotensi terganggu.

Baca Juga  SMKN 2 Gelar Pekan Karya P5 dan Launching Perkusi Dhol

Beberapa risiko yang mengancam, antara lain:

  1. Hilangnya ruang pendidikan budaya bagi generasi muda, yang selama ini dibentuk melalui latihan silat.
  2. Melemahnya identitas budaya Rejang Lebong, karena silat ini merupakan simbol kuat jati diri masyarakat Rejang.
  3. Risiko hilangnya tradisi di tingkat komunitas, akibat terhentinya regenerasi dan peran pelaksana utama.
  4. Terganggunya proses menuju WBTB nasional, yang membutuhkan bukti keaktifan komunitas budaya.

Kondisi ini menjadikan tahun 2026 sebagai fase penentu, apakah silat ini mampu bertahan atau justru terhenti.

Di tengah situasi ini, Aminudin dan para pelestari budaya berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah, DPRD, serta instansi terkait yang membidangi pendidikan dan kebudayaan. Dukungan yang dibutuhkan bukan sekadar untuk organisasi, melainkan upaya menjaga keberlanjutan identitas budaya daerah.

Silat Rejang Pat Petulai selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, membentuk karakter generasi muda, serta memperkuat kohesi sosial. Jika tradisi ini hilang, akan muncul kekosongan budaya yang sulit tergantikan.

Bagi kami, silat ini bukan sekadar kegiatan. Ini adalah jembatan penghubung antara generasi hari ini dengan nilai-nilai leluhur. Kami berharap ada langkah konkret untuk menjaga jembatan ini tetap berdiri,” kata Aminudin.

Ancaman vakum Silat Rejang Pat Petulai bukan lagi sekadar persoalan pelestarian budaya, tetapi persoalan menjaga identitas Rejang Lebong. Jika dibiarkan hilang, daerah ini berisiko kehilangan salah satu penanda sejarah terpenting yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakatnya.

Para pelestari budaya berharap kondisi ini menjadi perhatian bersama agar Silat Rejang Pat Petulai tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kebanggaan masyarakat Rejang Lebong. (Wandra)Br

Share

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel beritarafflesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemdes Warung Pojok Gelar Musyawarah Pra-Pelaksanaan Kegiatan 2026
Polsek Sindang Kelingi Laksanakan Pengawalan Pengendara Motor di Jalur Curup–Lubuklinggau
Tegas! Ketua Harian LSM GP2AM Amuasuriadi Kutuk Aksi Begal di Rejang Lebong: “Cederai Rasa Aman Masyarakat
Polres Rejang Lebong Amankan Pemotongan Hewan Kurban di Masjid Darussalam Air Rambai
Polres Rejang Lebong Ringkus Dua Pengedar Narkotika dalam Semalam
Pemkab Rejang Lebong Terima Audiensi BPJS Kesehatan, Bahas Perpanjangan Kerja Sama
Milad PERTI ke-98 di Rejang Lebong, Bengkulu Dipercaya Jadi Tuan Rumah Milad ke-99 Tahun 2027
Pemkab Bengkulu Tengah dan Baznas Salurkan Bantuan Pengobatan Warga Desa Arga Indah II
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 14:47 WIB

Pemdes Warung Pojok Gelar Musyawarah Pra-Pelaksanaan Kegiatan 2026

Minggu, 7 Juni 2026 - 13:45 WIB

Polsek Sindang Kelingi Laksanakan Pengawalan Pengendara Motor di Jalur Curup–Lubuklinggau

Senin, 1 Juni 2026 - 10:47 WIB

Tegas! Ketua Harian LSM GP2AM Amuasuriadi Kutuk Aksi Begal di Rejang Lebong: “Cederai Rasa Aman Masyarakat

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:26 WIB

Polres Rejang Lebong Amankan Pemotongan Hewan Kurban di Masjid Darussalam Air Rambai

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:28 WIB

Polres Rejang Lebong Ringkus Dua Pengedar Narkotika dalam Semalam

Berita Terbaru

Bengkulu Tengah

PPPK Paruh Waktu Kembali Keluhkan Gaji yang Belum Dibayarkan

Rabu, 24 Jun 2026 - 15:54 WIB