Rejang Lebong, Beritaraffllesia.com. – Semangat pelestarian budaya nusantara kembali terlihat dari kunjungan rombongan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat, yang jauh-jauh datang ke Kabupaten Rejang Lebong.
Kedatangan mereka bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang seni dan budaya lokal, khususnya di Sekretariat Pencak Silat Rejang Pat Petulai serta Sanggar Benuang Sakti.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa активно berdiskusi dan menggali informasi terkait sejarah Sanggar Tari Benuang Sakti, ragam tarian khas Rejang Lebong, hingga alat musik tradisional yang menjadi pengiring setiap pertunjukan adat.
Pelatih Sanggar Benuang Sakti menyampaikan bahwa tarian tradisional Rejang Lebong memiliki kekayaan yang luar biasa, dengan jumlah mencapai 26 macam tarian. Di antaranya yang paling dikenal adalah Tari Kejei dan Tari Balai.
Kedua tarian ini sarat makna adat dan sering ditampilkan dalam berbagai upacara penting masyarakat Rejang.

Lebih lanjut dijelaskan, Tari Kejei diiringi oleh musik tradisional khas seperti lagu Ombak Laut dan Ulak Buteu Debueak. Adapun alat musik tradisional yang digunakan oleh masyarakat Rejang Lebong meliputi Kulintang Lemo, Gung, Rebab, Krilu, Serdam, Kromong 12, hingga Ginggong.
Setiap alat musik tersebut memiliki karakter suara unik yang memperkuat nuansa sakral dan estetika dalam pertunjukan.
Tidak hanya seni tari, rombongan mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mendalam tentang filosofi pencak silat Rejang Pat Petulai yang disampaikan langsung oleh pelatih silat, Muhammad Dendi. Ia menjelaskan makna “ulu balang” dalam tradisi persilatan Rejang.
Menurutnya, ulu balang memiliki arti sebagai penjaga atau pengawal raja. Filosofinya sangat dalam, yakni ketika situasi di lingkungan mulai tidak aman atau tidak nyaman, maka ulu balang akan diturunkan untuk menyisir dan memastikan keamanan.
“Ulu balang tu, un mae natet demi keselamatan sang raja. Di kiasikan dengan Tari Mencak Pat Ulu Balang. Nak ipe rajo, di kulo ulu balang betijak. Di mana ada raja, di situ ulu balang mendampingi,” jelas Muhammad Dendi.
Ia juga menambahkan ungkapan penuh makna dalam tradisi tersebut, “Supeak ulu balang, lakeak bukie ku mako buleak udi kemniayo rajo,” yang berarti langkahi mayat kami terlebih dahulu sebelum bisa mengganggu raja. Filosofi ini menggambarkan loyalitas, keberanian, dan pengorbanan tanpa batas dari seorang pengawal.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para mahasiswa juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama Tuan Guru Besar sekaligus Ketua Umum Perguruan Pencak Silat Rejang Pat Petulai Provinsi Bengkulu. Momen tersebut menjadi kenangan berharga bagi para mahasiswa yang hadir.
Dalam pesannya, beliau menyampaikan motivasi kepada generasi muda agar terus mengejar cita-cita tanpa melupakan jati diri budaya.
“Kalian anak-anak generasi penerus bangsa, lanjutkan cita-cita kalian. Namun jati diri kalian jangan sampai hanya tinggal cerita saja,” pesannya penuh makna.
Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusias dan menjadi momen penting dalam mempererat hubungan budaya antar daerah.
Para mahasiswa terlihat sangat tertarik dan aktif dalam setiap sesi diskusi maupun praktik lapangan.
Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang peduli dan ikut ambil bagian dalam melestarikan budaya Rejang.
Kekayaan tradisi yang dimiliki bukan hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga warisan bangsa yang harus dijaga bersama.
Pelatih dan tokoh budaya setempat pun berharap kunjungan ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas agar lebih mencintai, menjaga, dan mengembangkan budaya lokal, sehingga tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Budaya adalah jati diri. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi,” tutup salah satu pelatih dengan penuh harap. (Ky)












