Iskandar Novianto Tawarkan Teknologi Plasma Pemusnah Sampah Nol Emisi untuk Bengkulu

Nasional511 Dilihat

Foto/ Mantan Kepala BPKP Provinsi Bengkulu Iskandar Novianto

Bengkulu, Beritarafflesia.com,– Mantan Kepala Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Bengkulu, Iskandar Novianto, menyampaikan gagasan revolusioner dalam pengelolaan sampah melalui teknologi plasma yang mampu memusnahkan sampah dengan emisi nol persen (0%) serta berkontribusi terhadap program langit biru pemerintah daerah provinsi Bengkulu.

Iskandar menyebut bahwa isu keberlanjutan atau sustainability saat ini menjadi perhatian secara global. Pemerintah Indonesia pun telah mengatur pelaporan keberlanjutan, termasuk penghitungan emisi gas rumah kaca.

“Saya mengajak pemerintah provinsi melalui Gubernur Bengkulu Helmi Hasan bersama Pemerintah Kota dalam hal ini Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi,  agar berperan dalam upaya mengurangi dampak lingkungan dan mengatasi dampak dari penumpukan sampah. Karena kita terinperasi dengan teman-teman dari ITB, bahwa mereka mampu mengembangkan teknologi plasma sebagai solusi nyata terhadap permasalahan sampah yang kini menjadi persoalan nasional,” ungkap Iskandar, kepada awak media ini, pada Sabtu (8/11/2025).

Ia memaparkan, teknologi plasma bekerja dengan cara memasukkan sampah ke dalam reaktor khusus. Di dalamnya, gas hasil pembakaran ditembak dengan laser suhu tinggi mencapai 1.000 hingga 1.200 derajat Celsius. Proses tersebut membuat seluruh bahan padat maupun cair dari sampah terbakar habis tanpa menyisakan limbah berbahaya. “Asap yang dihasilkan pun diolah kembali menjadi cairan liquid smoke sehingga emisi yang keluar benar-benar nol persen,” jelasnya.

Menurut Iskandar, keunggulan utama teknologi ini bukan hanya memusnahkan sampah, tetapi juga menghasilkan oksigen (O₂) sebagai efek positif dari proses penguraian. Ia menegaskan bahwa alat tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap upaya global dalam menekan emisi karbon.

Ia juga mengungkapkan, mulai tahun 2027 seluruh pelaku usaha dan lembaga pemerintah diwajibkan menghitung serta membayar kompensasi atas emisi karbon yang dihasilkan. Karena itu, menurutnya, teknologi plasma menjadi solusi strategis dan visioner bagi daerah-daerah di Indonesia, termasuk Provinsi Bengkulu.

“Kami sudah berkomunikasi dengan Pak Sekda Provinsi dan juga Wali Kota Bengkulu. Kami menawarkan solusi, bukan sekadar menjual alat. Tapi tentu, alat ini memiliki nilai investasi yang bisa membantu pemerintah provinsi untuk kabupaten dan kota yang belum mampu mengatasi persoalan dampak sempah kimia dan limbah organik,” ujarnya.

Iskandar menambahkan, teknologi ini telah diterapkan di beberapa daerah seperti Nagrek, Bandung, dan Bogor, bahkan telah diminati oleh sejumlah pemerintah daerah lain. Kapasitas alat yang dikembangkan bervariasi, mulai dari 0,5 hingga 50 ton per hari, tergantung kebutuhan daerah. Untuk kota besar seperti Bengkulu, diperlukan dua hingga tiga unit alat yang berkapasitas besar agar proses pemusnahan berjalan optimal dan lancar. Bakan ia juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah sebaiknya dilakukan dari hulu, bukan hanya di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Kalau sampah ditangani di TPA, itu sudah masalah, karena TPA tidak akan mampu menampung sampah dalam jangka waktu yang panjang. Harusnya dari kecamatan atau desa sudah diselesaikan. Dengan begitu, tidak ada lagi mobilisasi sampah yang mahal dan menimbulkan polusi,” katanya.

Seperti yang di lakukan di Kabupaten Indramayu biaya mobilisasi sampah hingga mencapai Rp30 miliar per tahun. Dengan investasi pada alat teknologi plasma versi tinggi, biaya tersebut bisa dialihkan untuk pembelian alat dan penempatan unit di tiap kecamatan. “Kalau ini dilakukan, tidak ada lagi mobilisasi, tidak ada polusi, dan sampah pun musnah,” tambahnya.

Selain membahas solusi teknis, Iskandar juga menyoroti keterbatasan anggaran daerah akibat pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat. Ia menilai kebijakan tersebut berdampak langsung pada kemampuan daerah dalam menjalankan program prioritas.

“Saya sudah sampaikan dalam forum bersama Kementerian Keuangan dan Kemendagri, seharusnya dana otonomi daerah tidak dipotong karena itu darah bagi daerah. PAD kita kecil, sedangkan sumber pendapatan besar dikelola oleh pusat,” tegasnya.

Di tengah kondisi fiskal yang terbatas, Iskandar mendorong pemerintah daerah untuk tetap menunjukkan inovasi dan keberanian mengambil langkah strategis.

“Justru di tengah keterbatasan, kita harus menunjukkan kehebatan. Bengkulu bisa menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi plasma nol emisi. Ini bukan hanya berbicara nasional, tapi sudah level dunia,” ujarnya optimistis.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, investor, dan pihak swasta dapat segera terwujud. “Kita jangan menunggu sampai masalah sampah semakin besar. Jika kita bisa memanfaatkan teknologi karya anak bangsa hari ini, maka Bengkulu bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia,”demikian tutup Iskandar.(Rian)

Share