BeritaRafflesia.com, Shanghai – Pengembangan produk lokal tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga kemampuan membangun identitas merek, menjaga kualitas, dan memanfaatkan teknologi. Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang dibawa Yosia Yodan setelah mengunjungi kantor pusat CHAGEE di Shanghai, China, bersama Sandiaga Uno dan Anggawira dalam perjalanan bisnis.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah produk yang berakar dari tradisi dapat dikembangkan menjadi merek dengan jaringan usaha berskala internasional.
Bagi Yosia Yodan, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa kekuatan produk tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Nilai budaya dan kekhasan yang telah melekat pada suatu produk justru dapat menjadi dasar untuk membangun identitas usaha, kemudian diperkuat melalui inovasi dan pengelolaan bisnis yang terukur.
CHAGEE menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi minum teh dikembangkan menjadi pengalaman konsumsi modern. Budaya minum teh menjadi bagian dari identitas merek, sementara inovasi produk, teknologi, serta sistem operasional digunakan untuk menjangkau konsumen dalam skala yang lebih luas.
Sandiaga Uno menilai perkembangan CHAGEE tidak terlepas dari kemampuannya mempertahankan akar tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen.
Pembelajaran tersebut dinilai relevan bagi pelaku usaha di Indonesia, terutama pengusaha muda yang tengah mengembangkan produk berbasis potensi daerah.
Kekhasan bahan baku, cita rasa, budaya, serta cerita yang melekat pada suatu daerah dapat menjadi identitas produk. Di sisi lain, teknologi dapat digunakan untuk memperbaiki pelayanan, mengelola persediaan, mencatat transaksi, membaca perilaku konsumen, hingga memperluas jangkauan pemasaran.
Dari Yunnan Menjadi Jaringan Ribuan Gerai
Menurut informasi pada situs resmi perusahaan, CHAGEE membuka gerai pertamanya pada 17 November 2017 di Yunnan, China. Merek tersebut mengambil inspirasi dari Ancient Tea and Horse Caravan Road atau jalur perdagangan teh dan kuda kuno yang menjadi bagian dari sejarah perdagangan dan pertukaran budaya.
Dari akar tersebut, CHAGEE mengembangkan produk berbahan dasar teh dan susu dengan pendekatan yang disesuaikan dengan selera konsumen modern.
CHAGEE didirikan oleh Junjie Zhang. Perkembangan perusahaan kemudian berlanjut hingga memasuki pasar modal Amerika Serikat. Pada 17 April 2025, saham CHAGEE mulai diperdagangkan di Nasdaq dengan kode CHA.
Jaringan gerainya juga terus berkembang. Berdasarkan laporan kinerja kuartal II 2026 yang diterbitkan pada 28 Agustus 2026, CHAGEE memiliki 7.639 gerai per 30 Juni 2026.
Jumlah tersebut meningkat 8,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total jaringan itu, sebanyak 6.756 gerai merupakan gerai waralaba, sedangkan 883 gerai lainnya dimiliki perusahaan.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi jaringan tidak hanya mengandalkan pengoperasian gerai sendiri, tetapi juga memanfaatkan kemitraan waralaba.
Identitas Produk hingga Kesiapan Sistem
Perjalanan CHAGEE memberikan pembelajaran bahwa membangun merek membutuhkan identitas yang jelas dan konsistensi dalam pelaksanaannya.
Bagi pengusaha daerah, hal tersebut dapat dimulai dengan mengenali keunggulan produk yang dimiliki. Bahan baku lokal, cita rasa khas, tradisi, maupun cerita masyarakat dapat dikembangkan menjadi bagian dari identitas produk.
Namun, identitas saja tidak cukup. Ketika usaha berkembang, pelaku usaha juga perlu memastikan kualitas produk dan pelayanan tetap terjaga.
Pembukaan cabang dan penerapan sistem waralaba, misalnya, membutuhkan standar operasional yang jelas, ketersediaan bahan baku, pelatihan pekerja, pengawasan mutu, serta pencatatan keuangan yang tertib.
Teknologi juga dapat dimanfaatkan secara bertahap sesuai kebutuhan usaha. Pencatatan penjualan secara digital, pengendalian persediaan, pemantauan produk yang paling banyak diminati, hingga pengelolaan masukan pelanggan dapat membantu pelaku usaha memahami kondisi bisnis secara lebih terukur.
Pertumbuhan jaringan, bagaimanapun, tidak serta-merta menggambarkan seluruh kondisi usaha. Laporan kinerja CHAGEE menunjukkan nilai transaksi pada gerai yang sama atau same-store GMV turun 16,1 persen secara tahunan pada kuartal II 2026.
Data tersebut menunjukkan pentingnya melihat kesehatan usaha di tingkat gerai, bukan hanya pertumbuhan jumlah cabang.
Bagi pengusaha muda, sejumlah indikator seperti arus kas, biaya operasional, keuntungan setiap produk, tingkat pembelian ulang, dan efisiensi usaha perlu menjadi pertimbangan sebelum melakukan ekspansi.
Yosia Yodan Dorong Anak Muda Bengkulu Berani Berusaha
Pengalaman tersebut juga menjadi dorongan bagi Yosia Yodan untuk mengajak generasi muda Bengkulu lebih terbuka terhadap pengetahuan dan pengalaman dari berbagai daerah maupun negara.
“Putra-putri di Bengkulu, beranilah memulai dan terbukalah terhadap pengetahuan baru. Pelajari bagaimana sebuah produk dibangun, bagaimana pelanggan dilayani, dan bagaimana kepercayaan dijaga. Saya berharap semakin banyak anak muda Bengkulu mampu membangun merek yang membanggakan daerah sekaligus membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Menurutnya, kesempatan belajar dari perusahaan yang telah berkembang secara internasional dapat membuka wawasan generasi muda mengenai cara mengembangkan potensi lokal.
Ia menilai Bengkulu memiliki peluang untuk melahirkan pelaku usaha yang mampu mengangkat produk daerah ke pasar yang lebih luas, selama didukung kemauan belajar, kemampuan mengelola usaha, serta jejaring yang kuat.
“Harapan saya, anak-anak muda Bengkulu semakin percaya diri untuk membangun usaha. Kita bisa mulai dari potensi yang dekat dengan kehidupan kita, lalu mengembangkannya dengan kualitas yang baik, pengelolaan yang tertib, dan kemauan untuk terus belajar,” katanya.
“Berasal dari daerah bukan penghalang untuk memiliki cita-cita besar,” lanjutnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun usaha. Kehadiran mentor, mitra bisnis, pemasok, komunitas, dan jejaring usaha dapat membantu pengusaha muda menguji gagasan sekaligus memperbaiki kekurangan dalam pengelolaan bisnis.
“Anak muda Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk daerah menjadi usaha yang kompetitif. Peluang itu perlu ditopang oleh keterampilan, jejaring, dan tata kelola yang baik. Harapannya, semakin banyak pengusaha muda yang mampu tumbuh bersama pemasok lokal, menciptakan pekerjaan, dan memberikan manfaat bagi daerahnya,” ujarnya.
Kunjungan ke CHAGEE di Shanghai pada akhirnya tidak hanya menjadi perjalanan untuk melihat perkembangan sebuah merek minuman asal China. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran mengenai pentingnya identitas, inovasi, konsistensi, teknologi, dan tata kelola dalam membangun usaha.
Bagi pengusaha muda Indonesia, termasuk dari Bengkulu, pembelajaran tersebut dapat diterapkan dengan mengembangkan kekuatan yang sudah dimiliki daerah, kemudian menggabungkannya dengan pengetahuan, teknologi, dan sistem pengelolaan usaha yang sesuai dengan kebutuhan pasar.












