Popnas XVII di DKI Ricuh, Akibat Atlit Pencak Silat Kontingen Bengkulu Diduga Dicurangi Juri

Foto/ Atlet Pencak Silat asal Bengkulu saat Ikuti Popnas XVII dan Peparpenas XI 2025 di Jakarta

Jakarta, Beritarafflesia.com–  Kegiatan Popnas XVII  dan Peparpenas XI 2025 yang di selenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia ( Kemenpora RI) di jakarta pusat, Nyaris baku hantam. Pasalnya, Atlit Pencak Silat Kontingen Bengkulu diduga dicurangi oleh Panitia penyelenggara bersama juri saat detik- detik merebut juara 1 medali emas.

Bagaimana tidak, Kontingen dari Provinsi Bengkulu merasa dirugikan akibat dugaan kecurangan yang terjadi dalam pertandingan cabang olah raga pencak silat pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XVII dan Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) XI Tahun 2025 yang digelar di Jakarta.

Menurut Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Bengkulu sekaligus Ketua Kontingen, Mike Van Hope menjelaskan, Peristiwa tersebut menimpa salah satu atlet pencak silat asal Bengkulu yang sebelumnya pernah meraih medali emas di ajang internasional di Dubai. Namun, dalam laga final Popnas kali ini, kemenangan yang semestinya bisa diraih, tapi justru kecewa akibat keputusan juri yang dinilai tidak objektif.

Ketua Kontingen Bengkulu ini juga menyebut, pihaknya telah mengajukan protes resmi setelah pertandingan berakhir. Namun, proses pengajuan protes tersebut diwarnai dengan sejumlah kejanggalan.

“Setelah pertandingan selesai kami langsung mengajukan protes. Tapi, pihak panitia meminta biaya sebesar tiga juta rupiah hanya untuk mengajukan protes resmi,” ujar Mike,yang didampingi  Suhardi, salah satu pendamping kontingen Bengkulu, ketika di hubungi redaksi media ini pada minggu sore,( 9/11/2025)

Mike menambahkan bahwa timnya telah mengikuti prosedur yang diminta panitia. Setelah membayar biaya tersebut, mereka diperbolehkan masuk ke ruang evaluasi untuk melihat ulang rekaman pertandingan. Dari hasil tayangan ulang tersebut, jelas terlihat bahwa tendangan yang diberi nilai oleh juri seharusnya tidak sah karena telah berhasil ditangkis oleh pesilat Bengkulu.

“Secara teknik silat, tendangan yang sudah ditangkis seharusnya tidak bisa dihitung sebagai poin. Namun, juri tetap menilai aksi tersebut sebagai serangan yang sah,” Ungkapnya.

Mike menegaskan, Pada kegiatan Popnas yang di selenggarakan di Jakarta tahun ini, ia menilai ada kejanggalan teknis dalam sistem penilaian elektronik. Saat rekaman pertandingan dibuka, terlihat adanya jeda sekitar tiga detik antara pemberian nilai oleh wasit dan tampilan di layar monitor. Setelah ditelusuri, ternyata terdapat indikasi bahwa salah satu juri pinggir menekan tombol nilai secara manual setelah aksi selesai.

“Setelah dibuka ulang, ternyata memang ada jeda waktu. Jadi bukan karena sistem, melainkan karena ada juri yang menekan tombol nilai secara manual. Ini jelas merugikan kami,” tegas Mike.

Kendati demikian, menurut Mike, Ketika tim Bengkulu ingin mengajukan banding lanjutan atas keputusan tersebut, panitia kembali meminta biaya tambahan sebesar lima juta rupiah. Sehingga permintaan itu justru menimbulkan kecurigaan kuat,bahwa  adanya praktik tidak profesional dalam penyelenggaraan pertandingan.

“Kami tanya lagi, kalau kami ajukan banding apakah ada kemungkinan penilaian diulang? Jawaban mereka tidak pasti. Tapi kalau kami tetap ingin banding, kami harus membayar lima juta rupiah lagi. Ini sangat merugikan dan mencoreng sportivitas olahraga yang diselenggarakan Menpora RI ,” Paparnya dengan rasa kecewa

Lebih lanjut Mike menyebut,  Hasil akhir pertandingan tetap di menangkan pesilat dari DKI Jakarta, meskipun tim Bengkulu telah menunjukkan bukti visual bahwa serangan lawan tidak sah untuk diberi poin.”  Meski tidak sah tapi dewan juri menyatakan bahwa hasil di lapangan bersifat mengikat dan tidak dapat dianulir.” Terang Mike

Meski demikian senada yang di sampaikan salah satu pendamping kontingen Bengkulu Suhardi dari dinas Dispora Provinsi Bengkulu mengatakan, bahwa pihak Dispora  Bengkulu tidak akan tinggal diam. Bahkan pihaknya tengah mempelajari langkah hukum dan administrasi yang bisa ditempuh, termasuk rencana untuk melayangkan surat resmi kepada pengurus besar cabang olahraga pencak silat terkait dugaan pelanggaran tersebut.

“Kami sedang mempelajari kemungkinan mengirimkan surat resmi ke pengurus besar agar masalah indikasi kecurangan ini bisa ditindaklanjuti. Karena kalau dibiarkan, keadilan dan semangat para atlet tidak akan pernah ditegakkan, ”kata Suhardi

Jumlah kontingen Bengkulu yang berangkat ke ajang Popnas dan Peparpenas 2025 mencapai 206 orang. Rombongan tersebut terdiri dari 116 atlet, 14 ofisial, 27 pelatih, serta tim kesehatan yang beranggotakan 10 orang termasuk dokter, terapis, dan fisioterapis.

Meski mengalami kekecewaan mendalam atas hasil pertandingan, kontingen Bengkulu tetap berhasil membawa pulang 2 medali perak dan 3 perunggu dari berbagai cabang olahraga.

Suhardi optimis bahwa dispora Bengkulu berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak atlet dan memastikan kejadian serupa tidak terulang pada Event olahraga nasional mendatang.

“Para atlet sudah berjuang maksimal dan menunjukkan sportivitas tinggi. Kami akan terus mendampingi mereka dan memperjuangkan keadilan agar dunia olahraga tetap bersih dan profesional, “demikian tutup Suhardi.”( Rian)

Share