Tangkal Westernisasi pada Anak dengan Inovasi, Walikota Apresiasi SDN 07 Kota Bengkulu
Inovasi yang telah dilakukan ialah, para siswa di SDN 7 telah banyak menghasilkan berbagai macam kerajinan tangan dari bahan sampah menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Diantaranya pot bunga cantik dari batok kelapa, handsanitizer dari serai, bunga mainan dari bekas cangkang telur, hiasan dinding/ruangan dan banyak lagi lainnya.
Tangkal Westernisasi pada Anak dengan Inovasi, Walikota Apresiasi SDN 07 Kota Bengkulu
Dalam sambutannya, Helmi mengatakan bahwa Inovasi ini menjadi sangat penting untuk menangkal budaya dari luar atau westernisasi pada anak. Sebab budaya yang condong dari barat sangat berdampak tidak baik pada anak, salah satu contohnya teknologi handphone yang di dalamnya ada game sehingga anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu degan bermain game daripada belajar.
Dampak terhadap kesehatan, banyak anak-anak SD dan SMP yang sudah memakai kacamata, padahal belum waktunya. Itu juga karena dampak dari teknologi.
Tangkal Westernisasi pada Anak dengan Inovasi, Walikota Apresiasi SDN 07 Kota Bengkulu
“Untuk menangkal westernisasi, anak-anak perlu ada inovasi, ini tugas orangtua dan guru-guru di sekolahnya. Inovasi bisa menghantarkan anak-anak kita ke depan menjadi generasi-generasi terbaik. Bagaimana anak diajarkan mencintai tumbuh tumbuhan, mencintai alam, dan mencinntai kebersihan. Bagaimana suatu benda yang tadinya orang tidak mau melihatnya, karena berinovasi bisa dimanfaatkan. Contohnya pot bunga dari batok kelapa yang sekarang ada di atas meja depan saya,” kata Helmi.
Tangkal Westernisasi pada Anak dengan Inovasi, Walikota Apresiasi SDN 07 Kota Bengkulu
Kepala SDN 7, Priyanti M.Pd menyampaikan, sekolah ini sudah dinobatkan Adhiwiyata dan diberi penghargaan dari Menteri Pendidikan.
“Sekolah ini bisa berkembang dan maju berkat kerjasama komite dan paguyuban kelas. Kita kerjasama dalam mendukung semua program-program pemerintah. Kita menjadikan sekolah ini religius, Alhamdulillah sudah ada musala. Setiap sertifikasi guru cair, menyumbang 1 tiang. Sekolah ini juga dapat bantuan dari pihak swasta melalui program CRS, kita yang jemput bola,” demikian Priyanti.(BR1)












