Bengkulu Tengah, Beritaraffllesia.com. – Kepala Puskesmas Kembang Seri, Susyanti, memberikan klarifikasi terkait isu dugaan penolakan pasien yang dialami sejumlah siswa usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menegaskan bahwa pihak puskesmas tidak pernah menolak pasien, dan menyebut kejadian tersebut dipicu oleh miskomunikasi antar pihak.
Kasus ini mencuat setelah anggota DPRD Bengkulu Tengah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah fasilitas kesehatan dan sekolah, menyusul insiden yang dialami sembilan siswa dari SMPN 3 dan SDN 1 Bengkulu Tengah yang mengalami gejala sakit usai mengikuti program MBG.
Susyanti, yang akrab disapa Yanti, menjelaskan bahwa kesan penolakan muncul akibat kurangnya komunikasi antara petugas piket Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan pengantar pasien, baik dari pihak keluarga, tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kembang Seri, maupun pihak sekolah.
“Pada prinsipnya kami dari Puskesmas tidak pernah menolak pasien. Kemungkinan yang terjadi kemarin adalah miskomunikasi antara petugas IGD dengan pihak keluarga pasien, tim SPPG Kembang Seri, dan guru SMPN 3 Bengkulu Tengah,” ujar Susyanti saat memberikan keterangan kepada wartawan, Sabtu (26/4/2026).
Ia menambahkan, setelah isu tersebut mencuat, pihaknya langsung melakukan penelusuran internal dengan meminta keterangan dari dua petugas IGD yang bertugas saat kejadian.
Berdasarkan hasil konfirmasi, tidak ditemukan adanya laporan maupun pencatatan pasien dengan keluhan keracunan, seperti mual atau nyeri perut.
“Saya sudah mengonfirmasi langsung kepada petugas yang berjaga. Mereka menyatakan tidak ada pasien yang datang dengan keluhan tersebut. Jika ada, tentu akan tercatat dalam buku registrasi dan langsung mendapatkan penanganan awal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Susyanti menegaskan bahwa pelayanan kesehatan di puskesmas telah diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) yang melarang keras penolakan pasien dalam kondisi apa pun.
“Penolakan pasien adalah pelanggaran serius. Semua pasien wajib dilayani terlebih dahulu tanpa melihat status jaminan kesehatan. Administrasi atau rujukan dilakukan setelah penanganan awal diberikan,” tegasnya.
Meski demikian, pihak Puskesmas Kembang Seri memastikan akan terus mendalami informasi yang beredar guna memastikan fakta sebenarnya, sekaligus melakukan evaluasi sistem komunikasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Sebelumnya, laporan yang diterima DPRD menyebutkan bahwa salah satu siswa yang diduga mengalami keracunan sempat dibawa ke Puskesmas Kembang Seri, namun kemudian dialihkan untuk mendapatkan perawatan di Klinik Rizky Medika Bengkulu Tengah. (Rizon)












