Bengkulu, Beritarafflesia.com- Persoalan pendangkalan alur pelabuhan Pulau Baai yang kondisinya kian memprihatinkan dan terus dikeluhkan pengguna jasa penyeberangan dan pengangkutan barang melalui jalur laut, terkesan belum ada jalan keluarnya.
Kendati beberapa waktu lalu, Wakil Gubernur Bengkulu, Mian sudah bertemu langsung dan menyampaikan persoalan ini kepada Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi namun belum ada kepastian realiasi pengerukan yang akan dilakukan.
“Akan ada konsorsium dari perusahaan-perusahaan, berupaya untuk itu. Tapi tidak pekerjaan mudah, cepat. Harus berkoordinasi,” ujar Mian, Jumat (21/2/2025).
Diakuinya pada kepemimpinan sebelumnya, sudah mengupayakan agar penanganan pendangkalan alur bisa diakomodir pemerintah pusat melalui kementerian perhubungan.
Namun karena tidak ada alokasi APBN, sehingga langkah yang diupayakan untuk dilakukan dengan menggandeng pihak konsorsium perusahaan-perusahaan pengguna jasa pelabuhan termasuk pihak Pelindo II.
“Semua by process tentunya. Mengkolaborasikan, karena APBN kita nggak ada seperti yang dirintis pemerintah terdahulu. Hanya kita membuat percepatan,” jelasnya.
Kendati persoalan pendangkalan alur belum ada kejelasan penanganan, namun untuk mengatasi kendala pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM), Mian menyampaikan dirinya secara khusus sudah berkoordinasi dengan pihak Pertamina agar penyaluran ke Bengkulu tetap lancar.
Dari hasil komunikasinya, untuk slot kuota BBM tahun 2024 yang masih tersisa dan belum dikirimkan nantinya akan didistribusikan melalui jalur darat untuk memenuhi kebutuhan BBM di wilayah-wilayah perbatasan Bengkulu.
“Agar sisa itu bisa dikirimkan lewat darat untuk mengatasi di Kabupaten Rejang Lebong bisa dikirim lewat Lubuk Linggau, Palembang. Kabupaten Mukomuko bisa dikirim dari pesisir Painan maupun Teluk Bayur,” sampainya.
Sementara itu, mantan Plt. Gubernur Bengkulu, Rosjonsyah mengatakan penanganan pendangkalan alur tergantung dari pihak Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP), jika siap untuk mendanai penanganan pengerukan alur tersebut maka akan dilakukan pihak Pelindo.
Namun jika tidak siap, maka pihak ketiga menyatakan diri siap untuk mendanai pengerukan alur tersebut.
“Kalau KSOP mau menugaskan paling siap untuk mendanai, kalau tidak pihak ketigas siap untuk mendanai. Persoalan ini vital sekali,” ujarnya.
Dikatakannya, salah satu persoalan saja terjadi akibat pendangkalan alur yang sangat vital adalah pengiriman BBM yang bisa berdampak terhadap stagnasi perekonomian jika terjadi kelangkaan. (Afs)







